30. berita tentang Apa Sih Penyebab Kenakalan Remaja?

sabtu, 24 oktober 2015 10.20 wib

Ilustrasi tawuran. (Foto: Arif Julianto/Okezone)

Ilustrasi tawuran. (Foto: Arif Julianto/Okezone)

JAKARTA – Perilaku brutal, radikal, kasar, ditunjukkan oleh remaja saat ini. Mulai dari tawuran antarsekolah, membajak bus untuk kepentingan kelompoknya, sampai menyiram air keras di dalam bus salah satu contohnya.

Masyarakat pun mulai geram menyikapi kelakuan para remaja tanggung tersebut. Kenapa hal ini bisa terjadi? Sebenarnya faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kalangan pelajar bisa melakukan hal-hal menyimpang seperti ini?

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) Zulkarnaen Sinaga mengaku prihatin melihat para remaja yang bersikap kriminal. Dirinya pun mencoba mengevaluasi, jika di sekolah tidak ada pendidikan radikal. Begitu pula dengan masyarakat, tidak ada yang bertindak radikal.

“Apalagi di rumah masing-masing, mereka juga tidak ada. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Seperti halnya di DKI Jakarta yang kian banyak tindak kriminal yang melanda kalangan remaja, lalu apa faktor penyebabnya?” tanya dia, saat dihubungi Okezone, Selasa (19/11/2013).

Zul, begitu dia akrab disapa, memberikan beberapa pandangan bahwa para remaja yang radikal tersebut disebabkan tidak adanya ruang publik. Artinya, ruang di mana tidak ada kesempatan untuk berkreasi dan menjadi penyemangat dirinya pun juga tidak ada.

“Ada istilah semangat korporasi (korps) kelompok yang dikembangkan oleh instansi tertentu dari dulu. Semangat korps itu kalau diganggu akan mengamuk secara beramai-ramai,” ucap Koordinator Kepala Sekolah Afirmasi Kota Bandung itu.

Lebih lanjut, menurut dia, semangat korps berkembang di kalangan remaja karena masih emosional, serta kurang ada pengawasan dari orangtua.

“Ada faktor mengenai radikal remaja, yaitu sosial kontrol atau pengawasan sosial. Saat ini perkembangan terakhir sosial kontrol tersebut tidak berfungsi lagi, seperti contoh kalau ada orang lain yang melakukan kesalahan seseorang tidak berani menegur,” ungkap Kepala Sekolah SMA Kristen Rehoboth Bandung itu.

Bahkan mereka yang melakukan kesalahan itu tidak merasa malu walau dilihat banyak orang, karena kontrol sosial tersebut tidak berfungsi. “Sehingga orang lain yang melihat tindak kriminal itu tidak berani menegur karena kondisi sisi psikologis kehidupannya, seperti faktor hukum yang dibawa-bawa sehingga dia takut proses hukum berlanjut hingga selesai,” tuturnya.

Zul melanjutkan, pengawasan pun tidak ditanggapi oleh lembaga yang berwenang. “Kalau berlaku waktunya lama, itu faktornya, sehingga sosial kontrol tidak berjalan bahkan tidak ada di kehidupan masyarakat,” pungkasnya.

sumber : http://news.okezone.com/read/2013/11/19/560/899619/apa-sih-penyebab-kenakalan-remaja

Iklan

29 berita tentang Emosi Labil, Amarah Remaja pun Tak Terkontrol

sabtui, 24 oktober 2015 10.18 wib

Ilustrasi tawuran. (Foto: Arif Julianto/Okezone)

Ilustrasi tawuran. (Foto: Arif Julianto/Okezone)

JAKARTA – Tingkat emosional di kalangan remaja khususnya para pelajar bisa dikatakan masih labil. Hal itu bisa menyebabkan ketidakseimbangan emosi, sehingga amarah tiap anak keluar dengan mudahnya.

Oleh karena itu, terjadi lah sikap-sikap kriminal yang melekat di dalam individu seorang remaja maupun berkelompok, seperti tawuran dan hal-hal menyimpang lainnya.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) Zulkarnaen Sinaga mengatakan, mereka hanya butuh aktualisasi diri. Secara psikologis, para remaja bisa dikatakan bukan anak-anak dan bukan dewasa, karena sedang dalam masa transisi.

“Sehingga mereka pasti tidak menunjukkan identitasnya sebagai pelajar ketika berkelompok dengan teman sebayanya dan mereka tidak takut oleh siapa pun, seperti kasus yang belum lama ini terjadi, yaitu menyiram air keras,” ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (20/11/2013).

Koordinator Kepala Sekolah Afirmasi Kota Bandung itu berharap, ke depannya ingin para remaja tampil sebagai generasi yang unggul, mampu menciptakan situasi yang aman dan damai dengan tidak adanya radikalisasi remaja serta belajar dengan baik.

“Saya berharap, masyarakat melakukan pengawasan terhadap mereka, kalau di lembaga pendidikan seperti di sekolah, guru-guru bersikap yang baik kepada muridnya. Padahal, dari dulu pendidikan karakter sudah ada dan lebih ditingkatkan lagi,” ucap Kepala Sekolah SMA Kristen Rehoboth Bandung itu.

Zul menambahkan, tidak ada cara-cara lagi selain memberikan pengawasan terhadap para remaja agar tidak melakukan tindak kriminal, baik dari rumah, sekolah maupun lingkungan sekitar.

“Tidak mungkin cara pencegahan seperti ini melalui hukum untuk anak-anak yang melanggar hukum, walaupun para remaja ini melakukan hal-hal dalam kategori dewasa. Selain itu, dengan cara memberikan pendidikan berkarakter yang bersungguh-sungguh dari masyarakat dan guru, serta agama,” tutup dia.

28. Berita Tentang Pelajar Butuh Tempat Mengekspresikan Diri

sabtu, 24 oktober 2015 10.15 wib

Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)

Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)

JAKARTA – Para remaja yang bersikap negatif, khususnya pelajar, akan berlaku demikian karena tidak diawasi pihak sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Oleh karena itu, masing-masing pihak harus memberikan pengawasan dan mengontrol kegiatan-kegiatan mereka serta mengarahkannya ke yang lebih positif. Seperti memberikan tempat untuk menyalurkan bakat dan minatnya, sehingga kekosongan waktu terisi dengan kegiatan yang positif, bukan untuk main-main apalagi melakukan tindak kriminal.

Guru SMA Negeri 19 Makassar Ratna S.Pd mengatakan, mengenai tindakan remaja yang cenderung radikal karena kurangnya pengawasan pihak sekolah, karena melibatkan banyak siswa. Selain dari pihak sekolah, remaja di Indonesia dengan segala masalahnya, juga dipengaruhi kepemimpinan dari kehidupan sehari-hari. Sehingga mereka sudah kehilangan kepercayaan dari orang dewasa di sekelilingnya.

“Remaja sebenarnya butuh figur yang bagus, sedangkan di lingkungan masyarakat sudah memperlihatkan gejala-gejala yang tidak bagus. Misalnya, ada seorang guru atau pendidik yang melakukan hal tidak terpuji, kemudian polisi yang bermasalah, sehingga para remaja akan kena dampaknya pada hal-hal tersebut,” ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis (21/11/2013).

Ratna menambahkan, faktor dari keluarga adalah pembentuk karakter nomor satu. Dengan kondisi keluarga, khususnya orangtua, yang sibuk dengan pekerjaannya, membuat anak menjadi kurang perhatian. Otomatis, sang anak lebih gampang dipengaruhi lingkungannya.

“Selain itu, media massa juga memberikan berita-berita yang negatif seperti tindak kriminal dan korupsi. Kalau di Jepang, berita-berita yang negatif tidak diekspos kepada masyarakat, tetapi beda halnya dengan di Indonesia, berita buruk malah di ekspos, itu secara psikologis. Andaikan media tidak terlalu mengekspos, kalau bisa paling tidak 50 persen berita positif dan 50 persen negatif, jadi ada keseimbangan,” ucap guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris itu.

Hal senada juga disampaikan Guru SMA Negeri 1 Wonotunggal Batang, Jawa Tengah Wisnu Ardlian Sugiyarto. Dia mengatakan, perlu ada efek jera untuk menangani remaja secara khusus.

“Perlu ada semacam ekstrakurikuler, agar mereka bisa mengekspresikan pada jalurnya masing-masing, sehingga bisa menyeimbangkan emosinya,” kata guru yang mengajar mata pelajaran Fisika itu.

Sementara dalam lingkungan masyarakat, pengawasannya harus lebih besar karena tidak ada pengawasan dari orangtua. Tidak perhatian kepada sang anak, seperti keluarga yang broken home, membuat mereka terjerumus ke pergaulan yang bebas.

“Saya berharap, remaja bisa menyalurkan bakatnya agar bisa mengekspresikannya di sekolah. Orangtua yang peduli dengan anaknya, dan remaja tersebut melakukan hal-hal yang sewajarnya,” katanya.

27. Berita Tentang Murid Tawuran, Sekolah “Kena Batunya”

sabtu, 24 oktober 2015 10.12 wib
Ilustrasi tawuran. (Foto: Arif Julianto/Okezone)

Ilustrasi tawuran. (Foto: Arif Julianto/Okezone)

JAKARTA – Aksi brutal yang dilakukan remaja semakin berani. Aksi yang tidak pernah habis-habisnya seperti tawuran. Bahkan, akibat tindakan kriminal para pelajar yang suka tawuran tidak tahu harus menyalahkan siapa? Entah pihak sekolah, orangtua, atau lingkungan.

Rektor Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) Prof. Dr. M. Aman Wirakartakusumah menilai, keberanian yang timbul dari remaja tersebut muncul karena tidak ada nilai-nilai yang diterapkan ke dalam kehidupannya sehari-hari.

“Sebagai guru kita harus perhatian kepada para muridnya. Karena kalau sudah terjadi hal-hal seperti tawuran, pihak sekolahlah yang disalahkan. Padahal pihak sekolah sudah mendidik value atau nilai-nilai, agar mereka akan melihat dan mengambil keputusan setelah mempertimbangkan dari berbagai perspektif,” ujar Ketua Majelis Pendidikan Dewan Pendidikan Tinggi Kemendikbud itu, di The Financial Club, Jakarta, Kamis (21/11/2013).

Dia mengungkapkan, masing-masing guru harus saling mengingatkan dan harus berwibawa mengenai tawuran antarpelajar.

“Kita harus yakin, kami dari pendidikan mencoba memberikan nilai-nilai positif. Untuk mencegah hal-hal seperti ini, perlu pendekatan anak dengan orangtua yang harus lebih dekat lagi, kalau berteman harus milih-milih teman dan juga harus kenal dengan orangtuanya,” ucap Mantan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

26. Berita Tentang Cegah Kenakalan Remaja, Ajari Berpikir Kritis!

sabtu, 24 oktober 2015 10.10 wib

Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)

Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)

JAKARTA – Usia remaja merupakan ajang untuk mencari identitas diri. Sehingga, kejadian brutal di kalangan pelajar bukan tidak mungkin akan terus berulang.

Dosen Ilmu Pendidikan Lingkungan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) Stien Johanna Matakupan, M.Pd mengatakan, dalam perkembangan remaja, mereka ingin mencari jati diri, termasuk toleransi dengan teman kuat sekali. Jika ada teman yang salah dia langsung membela, namun lemah untuk berpikir kritis.

“Ada yang harus diperbaiki, yaitu menganalisa sesuatu untuk melihat benar atau tidaknya,” ujarnya saat berbincang dengan Okezone, di The Financial Club, Jakarta, Kamis (21/11/2013).

Kemudian, Anggota Dewan Caretakers of the Environment International itu melihat dari berbagai perspektif, yaitu perlu dibina dan diangkat pendidikannya di sekolah, mendidik nilai-nilai, sehingga dia akan melihat dan mengambil keputusan setelah mempertimbangkan dari berbagai perspektif.

“Remaja masih dalam proses aktualisasi diri dan emosinya yang belum matang. Lemahnya kita dalam pendidikan untuk membina dalam hal ini, tidak heran jika terjadi dimana-mana,” ucapnya.

Berdasarkan data, Stien menjelaskan, sekolah yang anak-anaknya difasilitasi untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, dapat mengemukakan pendapat lebih banyak. Kemudian mereka juga berkontribusi dalam kegiatan sekolah dan masyarakat tinggi, sehingga angka kenakalan di sekolah itu rendah.

“Karena anaknya akan sibuk, tapi dia juga berpikir kritis. Itu yang kita lemah berpikir hal seperti itu, mengajarkan anak untuk mempertimbangkan moral, kenapa dia melakukan hal seperti itu? Seharusnya tidak melakukan hal ini, nanti bagaimana? Nah hal-hal seperti itu yang menjadi kelemahan,” ungkapnya.

25. Berita Tentang pelajar Nggak Brutal, Anak Jangan Ditinggal

sabtu, 24 oktobert 2015 10.06 wib

Ilustrasi. (Foto: Runi Sari/Okezone)

Ilustrasi. (Foto: Runi Sari/Okezone)

JAKARTA – Supaya remaja tidak brutal, sejak kecil anak jangan ditinggal-tinggal oleh orangtuanya dengan alasan bekerja. Sehingga anak tersebut kurang pengawasan dan perhatian dari orangtuanya sendiri.

Dosen Ilmu Pendidikan Lingkungan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) Stien Johanna Matakupan, M.Pd berpendapat, dalam keluarga sebenarnya pada usia lima tahun pertama masa pertumbuhan anak-anak sedang dalam masa golden periode. Dalam hal ini orangtua yang berperan besar, misalnya orangtua lebih banyak bekerja dan menyerahkan pendampingan anak kepada pembantu, maka anak akan cenderung bersifat brutal.

“Lalu di lingkungan masyarakat juga bagaimana supaya anak-anak itu bisa berinteraksi lebih banyak dengan masyarakat agar tidak berkecenderungan dengan hal-hal yang menyimpang,” ujarnya saat berbincang dengan Okezone, Kamis (21/11/2013).

Oleh karena itu, pendidikan karakter bagus dibicarakan di kelas (sekolah), namun akan lebih bagus bila dia terjun di masyarakat dan dibenturkan dengan kondisi yang ada. Misalnya ada sekolah-sekolah yang bagus sudah mulai memberikan program anak yang bekerjasama dengan masyarakat atau anak tinggal dengan masyarakat, dia akan mengalami benturan-benturan budaya. Di lain pihak dia akan belajar pada nilai-nilai yang berbeda.

“Kemudian pendidikan karakter juga lebih banyak kepada diskusi dengan orang dari berbagai golongan. Jadi dia paham, harus menghormati dari segala perbedaan, Indonesia beruntung sebenarnya dengan berbagai macam budaya untuk pendidikan karakter, cuma apakah ada kesempatan atau tidak untuk anak-anak untuk mengeksplorasi, terus juga kegiatan di lapangan misalnya pendidikan karakter untuk tekun, berarti dia harus berkegiatan seperti mengolah sampah atau kegiatan yang tangannya jadi kotor, harus menceburkan ke lumpur, harus mengalami yang tidak enak, itu juga sangat kurang dididik, kita hanya banyak fokus kepada pengetahuan seperti menyelesaikan soal, menjawab ulangan, nilai bagus,” ucapnya.

Lebih lanjut, Guru harus memberikan kesempatan kepada murid untuk melakukan hal seperti itu, walaupun muridnya marah dan menangis tidak apa-apa, namun itu proses belajar yang tidak harus melulu senang, tapi juga ada saatnya di mana dia harus merasakan hal-hal yang dia tidak suka.

“Ada juga orangtua yang tidak mengizinkan anaknya melakukan kegiatan yang sulit atau kesusahan, padahal itu adalah pendidikan karakter. Jadi, pendidikan karakter itu membutuhkan juga guru dan orangtua yang harus sedikit tega, contoh lain misalnya memukul juga tidak apa-apa tapi anak harus tahu kenapa dia dipukul, selama ini kan tidak, hanya ada timbul rasa benci anak terhadap orangtua, menjadi pelarian dan akhirnya pergi dari rumah,” ungkapnya.

24. Berita Tentang Didik Remaja Nakal Lewat Guru Agama Islam

sabtu, 24 oktober 2015 10.05 wib

Ilustrasi tawuran. (Foto: Arif Julianto/Okezone)

Ilustrasi tawuran. (Foto: Arif Julianto/Okezone)

BEKASI – Menteri Agama Suryadharma Ali menuturkan, suatu bangsa akan mencapai kemajuan dan kemakmuran apabila mampu melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia.

“Karena baik-buruknya bangsa di masa mendatang tergantung generasi muda hari ini,” kata Suryadharma, saat membuka secara resmi Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) VI 2013 Tingkat Nasional, di Asrama Haji Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (25/11/2013).

Namun melihat kondisi seperti sekarang ini, dirinya mengaku prihatin melihat generasi muda yang berperilaku negatif.

“Saat ini masih sering kita jumpai kenakalan remaja, tawuran, kekerasan di sekolah oleh senior kepada juniornya, masalah narkoba, bahkan peredaran video porno dengan pelakunya anak-anak kita di sekolah,” kata Suryadharma.

Dia mengimbau, para guru agama Islam, dalam mendidik para siswa di sekolah, makin meningkat.

“Guru PAI harus bisa memposisikan diri sebagai benteng moral anak-anak kita,” tukasnya singkat.

sumber : http://news.okezone.com/read/2013/11/25/560/902440/didik-remaja-nakal-lewat-guru-agama-islam